Politik, terutama di negara yang kita cintai ini sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari urat nadi kehidupan rakyat, mulai dari yang jelata pedagang asongan, sampai mereka yang duduk mentereng di gedung bertingkat dan mewah atas nama kepentingan publik dan rakyat.
Hampir semua tindakan yang diambil atas nama rakyat, selalu dikait kaitkan dengan politik, terlepas dari apakah memang ada kaitannya secara langsung maupun tidak langsung, tapi sepertinya dengan mengikut sertakan politik, segala sesuatu menjadi menarik untuk dibahas dan diulas.
Tidak ada definisi baku Politik yang jelas melalui pencarian yang saya lakukan di beberapa kamus online. Secara umum kata politik itu dijelaskan sebagai pengetahuan mengenai tata negara, tindakan dan kebijakan baik dalam dan luar negeri oleh pemerintah, kebudayaan partai dan cara bertindak, kebijaksanaan dan cara bertindak menghadapi suatu permasalahan baik secara nasional maupun internasional terkait sektor perdagangan dan lain lain.
Tidak heran membahas politik ini menjadi suatu kegiatan yang tidak putus putusnya dan selalu trend karena sangat versatile . Liat, berubah setiap saat, lincah, selalu dalam format baru dan bentuk yang lain , oleh karenanya tidak bisa dibakukan dan dipegang secara mutlak dalam satu wujud yang jelas.
Oleh karenanya secara formal dikatakan bahwa hukum tidak boleh bercampur politik, tetapi ehm.. kita sudah tahu sama tahu bahwa dimanapun, apalagi di Indonesia, hukum hampir selalu pada kenyataannya berada dibawah kekuasaan politik. Ketika ditanyakan mana buktinya, maka mendadak sontak semua bingung dan terpana , termasuk saya sendiri, karena politik bisa menyetrum seperti aliran listrik yang tidak kentara, namun hanya bisa terlihat dari perilaku orang yang tersengat listrik yaitu kejang kejang, dan akibat fatal yang dibawanya.
Susah dilihat dan digambarkan secara jelas, berubah begitu cepatnya mengikuti kebutuhan dan arus yang sedang trend, tidak dapat dipegang secara mutlak, tidak memiliki kawan dan lawan yang abadi, bisa berubah bentuk sesuai keinginan yang berkuasa . Maka tidak heran politik bisa saja bagi sebagian besar orang berkonotasi seperti ilmu magic (hitam dan putihnya sebenarnya sesuai dengan persepsi masing masing , tergantung dari sudut mana anda memandang).
Sekarang kita masuk kepada kata kedua yang memang sangat eye catching yaitu seks. Sebenarnya saya geli sendiri membahas kata seks ini, karena mungkin satu kata inilah yang bisa membuat banyak orang tersenyum dan menjadikan segala sesuatu menjadi menarik. Seks bisa menghidupkan, jelas saja tanpa kegiatan ini, anda dan saya pasti tidak akan bertemu di Kompasiana. Seks bisa mematikan juga, kalau sesudah melakukan hubungan badan dan kemudian hamil diluar nikah, bisa saja sang laki laki tidak mau bertanggung jawab yang kemudian membuat wanitanya bunuh diri sampai mati.
Kaitannya dengan politik ?. Ya hidup dan mati tadi. Partai politik bisa dilanda prahara yang tak berujung ketika salah satu petingginya terlibat seks diluar kelaziman. Yang saya maksudkan lazim adalah hubungan intim suami istri di area pribadi mereka. Diluar suami istri yang sah, maka untuk ringkasnya saya kategorikan sebagai tidak lazim. Partai politik bisa juga menjadi bergairah dan hidup, sehingga rajin mengikuti rapat dan pembahasan di rumah wakil rakyat, meskipun yang dilakukan hanyalah menonton film esek esek sementara rapat berlangsung. Mau rapat delapan jam sekalipun, yang lagi nonton pasti tidak mengantuk, kecuali lebih sering bolak balik ke kamar kecil.
Nah lalu apa kaitannya dengan cinta ?. Cinta itu mengaitkan segala sesuatu yang ada di jagad raya ini, apakah sesuatu itu terlihat jelas atau tidak. Atas nama Cinta kepada manusia, maka Tuhan menjadikan bumi dan langit. Atas nama cinta maka manusia kemudian menikah dan memiliki anak untuk melanjutkan peradaban dunia. Konon katanya anak itu hadir untuk mempererat tali cinta diantara suami dan istri. Saya tidak setuju dengan pendapat ini. Kasihan sekali anak dijadikan tali atau lem perekat, sehingga banyak pernikahan yang goyah dan hancur tetap akan bertahan walaupun dalam bentuk kepura puraan mengatas namakan cinta kepada anak. Ini salah satu bentuk cinta yang salah kaprah... Atas nama cinta juga politik itu bergerak dan membentuk partai. Konon katanya cinta kepada negara dan rakyat, meskipun kebenarannya sampai sekarang belum bisa saya lihat sudah terbukti.
Cintalah yang membuat seks itu menjadi halal dan indah. karena cinta maka dua insan yang sedang mabuk kepayang, kemudian sadar sejenak untuk membawa diri kedalam pernikahan. Biasanya setelah menikah, sadarnya menjadi sangat permanen dan justru menjadi sangat sadar, sampai hal hal kecil dan kesalahan kesalahan minor dari pasangan terlihat sangat jelas seperti melihat melalui mikroskop. Siapa bilang cinta hanya membutakan ?. Setelah menikah, cinta justru banyak membuka mata seseorang dan mendadak melihat segala sesuatu tentang pasangannya dengan sangat jeli.
Ada satu kesimpulan yang masih saya simpan khusus untuk para murid murid yang pintar, yang selama ini mengikuti kelas cinta lewat artikel artikel saya. Murid murid ini semuanya berada pada level kecerdasan tingkat genius, maka saya justru meninggalkan ruang komentar untuk diisi dengan kesimpulan mengenai keterkaitan politik, seks dan cinta.
Anggaplah ini sebagai satu ujian pendahuluan sebelum saya mengeluarkan sertifikat“berpengalaman”. Saya tidak berani mengeluarkan sertifikat lulus, karena selama manusia masih hidup dan bernafas, maka selama itulah cinta masih dialami dan kita selalu berubah peran sebagai murid, guru , pengamat dan pelaku secara bergantian.
Hampir semua tindakan yang diambil atas nama rakyat, selalu dikait kaitkan dengan politik, terlepas dari apakah memang ada kaitannya secara langsung maupun tidak langsung, tapi sepertinya dengan mengikut sertakan politik, segala sesuatu menjadi menarik untuk dibahas dan diulas.
Tidak ada definisi baku Politik yang jelas melalui pencarian yang saya lakukan di beberapa kamus online. Secara umum kata politik itu dijelaskan sebagai pengetahuan mengenai tata negara, tindakan dan kebijakan baik dalam dan luar negeri oleh pemerintah, kebudayaan partai dan cara bertindak, kebijaksanaan dan cara bertindak menghadapi suatu permasalahan baik secara nasional maupun internasional terkait sektor perdagangan dan lain lain.
Tidak heran membahas politik ini menjadi suatu kegiatan yang tidak putus putusnya dan selalu trend karena sangat versatile . Liat, berubah setiap saat, lincah, selalu dalam format baru dan bentuk yang lain , oleh karenanya tidak bisa dibakukan dan dipegang secara mutlak dalam satu wujud yang jelas.
Oleh karenanya secara formal dikatakan bahwa hukum tidak boleh bercampur politik, tetapi ehm.. kita sudah tahu sama tahu bahwa dimanapun, apalagi di Indonesia, hukum hampir selalu pada kenyataannya berada dibawah kekuasaan politik. Ketika ditanyakan mana buktinya, maka mendadak sontak semua bingung dan terpana , termasuk saya sendiri, karena politik bisa menyetrum seperti aliran listrik yang tidak kentara, namun hanya bisa terlihat dari perilaku orang yang tersengat listrik yaitu kejang kejang, dan akibat fatal yang dibawanya.
Susah dilihat dan digambarkan secara jelas, berubah begitu cepatnya mengikuti kebutuhan dan arus yang sedang trend, tidak dapat dipegang secara mutlak, tidak memiliki kawan dan lawan yang abadi, bisa berubah bentuk sesuai keinginan yang berkuasa . Maka tidak heran politik bisa saja bagi sebagian besar orang berkonotasi seperti ilmu magic (hitam dan putihnya sebenarnya sesuai dengan persepsi masing masing , tergantung dari sudut mana anda memandang).
Sekarang kita masuk kepada kata kedua yang memang sangat eye catching yaitu seks. Sebenarnya saya geli sendiri membahas kata seks ini, karena mungkin satu kata inilah yang bisa membuat banyak orang tersenyum dan menjadikan segala sesuatu menjadi menarik. Seks bisa menghidupkan, jelas saja tanpa kegiatan ini, anda dan saya pasti tidak akan bertemu di Kompasiana. Seks bisa mematikan juga, kalau sesudah melakukan hubungan badan dan kemudian hamil diluar nikah, bisa saja sang laki laki tidak mau bertanggung jawab yang kemudian membuat wanitanya bunuh diri sampai mati.
Kaitannya dengan politik ?. Ya hidup dan mati tadi. Partai politik bisa dilanda prahara yang tak berujung ketika salah satu petingginya terlibat seks diluar kelaziman. Yang saya maksudkan lazim adalah hubungan intim suami istri di area pribadi mereka. Diluar suami istri yang sah, maka untuk ringkasnya saya kategorikan sebagai tidak lazim. Partai politik bisa juga menjadi bergairah dan hidup, sehingga rajin mengikuti rapat dan pembahasan di rumah wakil rakyat, meskipun yang dilakukan hanyalah menonton film esek esek sementara rapat berlangsung. Mau rapat delapan jam sekalipun, yang lagi nonton pasti tidak mengantuk, kecuali lebih sering bolak balik ke kamar kecil.
Nah lalu apa kaitannya dengan cinta ?. Cinta itu mengaitkan segala sesuatu yang ada di jagad raya ini, apakah sesuatu itu terlihat jelas atau tidak. Atas nama Cinta kepada manusia, maka Tuhan menjadikan bumi dan langit. Atas nama cinta maka manusia kemudian menikah dan memiliki anak untuk melanjutkan peradaban dunia. Konon katanya anak itu hadir untuk mempererat tali cinta diantara suami dan istri. Saya tidak setuju dengan pendapat ini. Kasihan sekali anak dijadikan tali atau lem perekat, sehingga banyak pernikahan yang goyah dan hancur tetap akan bertahan walaupun dalam bentuk kepura puraan mengatas namakan cinta kepada anak. Ini salah satu bentuk cinta yang salah kaprah... Atas nama cinta juga politik itu bergerak dan membentuk partai. Konon katanya cinta kepada negara dan rakyat, meskipun kebenarannya sampai sekarang belum bisa saya lihat sudah terbukti.
Cintalah yang membuat seks itu menjadi halal dan indah. karena cinta maka dua insan yang sedang mabuk kepayang, kemudian sadar sejenak untuk membawa diri kedalam pernikahan. Biasanya setelah menikah, sadarnya menjadi sangat permanen dan justru menjadi sangat sadar, sampai hal hal kecil dan kesalahan kesalahan minor dari pasangan terlihat sangat jelas seperti melihat melalui mikroskop. Siapa bilang cinta hanya membutakan ?. Setelah menikah, cinta justru banyak membuka mata seseorang dan mendadak melihat segala sesuatu tentang pasangannya dengan sangat jeli.
Ada satu kesimpulan yang masih saya simpan khusus untuk para murid murid yang pintar, yang selama ini mengikuti kelas cinta lewat artikel artikel saya. Murid murid ini semuanya berada pada level kecerdasan tingkat genius, maka saya justru meninggalkan ruang komentar untuk diisi dengan kesimpulan mengenai keterkaitan politik, seks dan cinta.
Anggaplah ini sebagai satu ujian pendahuluan sebelum saya mengeluarkan sertifikat“berpengalaman”. Saya tidak berani mengeluarkan sertifikat lulus, karena selama manusia masih hidup dan bernafas, maka selama itulah cinta masih dialami dan kita selalu berubah peran sebagai murid, guru , pengamat dan pelaku secara bergantian.
sumber : Kompasiana


